Seorang ibu membawa anaknya sambil berlari terkatung-katung melewati gang sempit. Sesekali ibu itu melihat kebelakang dengan tatapan takut dan terburu-buru sambil tetap berlari kencang menggendong anaknya yang masih bayi dengan erat, bahkan mungkin sangat erat. Aku melihat kejadian itu di balik jendela kos ku. Dengan penuh tanda tanya di kepalaku aku melangkah keluar kos untuk melihat sang ibu tetapi sudah tidak terlihat lagi akupun melihat ke arah yang berlawanan untuk mengetahui siapa yang mengejar ibu tersebut. Tetapi aku sangat heran dan bingung karena ternyata tidak ada siapapun yang mengejar ibu tersebut. Kejadian tadi tidak ku ambil pusing walaupun sebenarnya masih penuh pertanyaan di kepalaku.
Aku pergi kos teman di ujung gang, temanku bernama vona. Dan ternyata di dalam kos vona ada ibu yang tadi berlari sambil menggendong anaknya. Sebelum ibu tersebut melihatku, akupun bersembunyi di kamar mandi untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada ibu itu. Dari celah-celah pintu kamar mandi aku melihat sang bayi yang sedang digendong melihat ke arahku. Seketika itu juga aku merasakan hal yang aneh terjadi pada diriku. Seolah-olah waktu berhenti. Aku seperti orang pingsan tapi masih bisa melihat keadaan sekitar. Aku terhipnotis oleh tatapan sang bayi. Setelah beberapa lama akupun sadar. Sewaktu aku sadar ibu dan bayinya sudah tidak ada lagi di tempat semula. Akupun keluar dari kamar mandi kemudian menghampiri vona dan bertanya, sebenarnya siapa ibu itu. Tetapi anehnya vona malah bingung dengan pertanyaanku. Seharian ini tidak pernah ada siapapun yang datang ke kos ini kecuali aku. Aku pikir vona hanya mengerjaiku. Aku tanya berulang-ulang dengan wajah serius dan bahkan nada bicara yang sedikit emosi. Tetapi vona tetap pada pendiriannya. Vona pun memasang wajah yang serius dan sedikit jengkel. Setelah melihat ekspresi vona seperti itu aku sekarang percaya padanya. Tiba-tiba timbul rasa takut sekaligus bingung. Banyak sekali pertanyaan dalam otakku.
Aku menuju ruang tengah kos vona. Di sini pikiranku mulai teralihkan berkat teman-temanku. Aku, vona dan teman-teman lain ngobrol dan bercanda bersama. Tidak jarang pula kami tertawa terbahak-bahak sampai akupun merasa lapar. Aku minta minum kepada vona. Vona menyuruhku untuk ambil sendiri di dapur. Di dapur mataku tertuju pada gelas dan aku berniat untuk mengambil gelas itu. Otakkupun memerintah semua anggota tubuh untuk mengambil gelas yang ada di rak itu. Tiba-tiba sebelum gelas ku ambil, gelas itu melayang kearahku dan berhenti tepat di depan mataku. Sontak aku kaget dan takut. Aku membalik badan untuk berlari ke ruang tengah menuju teman-teman dan gelaspun jatuh dengan suara yang menggemparkan seisi kos. Aku langsung bersimpuh lemas di depan teman-teman. Teman-temanku kaget dan menanyakan keadaanku sebenarnya. Mereka menenangkan dan membawakanku minum. Lalu aku bercerita tentang semua kejadian aneh yang menimpaku sebelum aku berangkat ke kos ini. Semua berpikir aku hanya bercanda, karena sebelumnya memang kita sedang bercanda. Tidak ada satupun yang percaya padaku. Salah satu temanku berkata kepadaku untuk mencoba teknik yang bisa menggerakkan gelas seperti di dapur tadi. Dia menyuruh dengan penuh nada ejekan. Aku merasa sendiri di tengah keramaian ini. Mereka terus menyuruhku untuk menggerakkan benda-benda tanpa memebangnya tetapi aku tidak tahu tekniknya karena aku kaget dan sangat takut. Vona menenangkan dan mengajak dengan lembut agar aku mau mempraktekan bagaimana cara menggerakkan benda tanpa disentuh. Agar teman-teman dapat percaya dan aku terbukti tidak hanya membual. Akupun mencobanya. Aku berkonsentrasi pada buku yang dipegang Vona. Tiba-tiba buku itupun melayang dan menghampiriku. Akhirnya semua anak dalam ruangan itu percaya dan takjub atas kejadian yang baru saja mereka lihat. Bahkan akupun takjub dan merasa tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi. Vona yang bijaksana memberi sedikit nasihat kepadaku. Dia menyuruhku agar menggunakan kekuatan ini dengan bijaksana dan untuk kebaikan. Dia juga berkata bahwa dia senang dengan kondisiku sekarang yang telah mempunyai kekuatan tidak biasa, yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang beruntung. Aku merasa tersanjung dengan pujian itu. Tetapi dalam hatiku masih merasa takut akan apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Aku takut akan hidup dengan kekuatan ini selamanya. Ini adalah hal yang aneh dan mengakibatkan alam tidak seimbang.
Turun hujan. Satu persatu teman-temanku menuju kamar mereka masing-masing. Aku menuju ruang tamu dan duduk disamping jendela. Memandang keluar jendela dengan pikiran yang masih diliputi banyak pertanyaan dan rasa takut. Kemana sebaiknya aku bertanya. Aku takut semua orang tahu akan kekuatanku. Aku takut mereka menjauhiku atau malah memanfaatkanku untuk kepentingan yang tidak bertanggungjawab.
Di balik jendela aku melihat wawan dan fadli sedang berteduh di teras depan kos. Kemudian aku mengerjai mereka dengan kekuatanku. Ku buat kerikil melayang dan mengenai punggung wawan sehingga dia mengira fadli yang usil mengerjai dirinya. Kulakukan juga kepada fadli, diapun mengira wawan yang mengerjainya. Aku tertawa terbahak-bahak di balik jendela. Mereka mendengar suara tawaku. Mereka mengetuk kaca jendela dan melihatku tertawa sendirian dan menganggapku gila.
Aku bangun dari tidur ini. Merasa tadi bukan mimpi karena berasa sangat nyata dan jelas runtutan ceritanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar