WILADANTIKA, DI DUNIA KHAYAL

selamat datang bagi anda yang masuk di duniaku ... anda yang berhasil masuk ke sini, akan mendapatkan ilmu yang tidak bermanfaat
terimakasih

Sabtu, 26 November 2011

dinamika kehidupan "malam"


Gue lagi sakit sekarang, bokap, nyokap  lagi pergi. Malam ini cuma ada pembantu sama gue. Gue tiduran di kamar sambil selimutan sampai ketutup semua. Gue cukup menggigil saat itu. Tiba-tiba rombongan temenku dateng ada andi, tono, hasmi dan  mia. Mereka memang sahabat deketku. Pembantu gue mempersilahkan mereka masuk. Terus gue nyuruh pembantu, mempersilahkan mereka masuk kamar gue aja. Soalnya gue males banget bangun dari tempat tidur “tercintaku”. Mereka dateng dengan parcel berisi buah-buahan. Gue seneng banget ngeliatnya. Mulut ini udah nelen ludah beberapa kali. Gue dah kaya anjing liat tulang. Tapi gue tahan rasa pengen  ngembat buah-buahan tadi, gengsi dong gue.

Andi duduk di sebelah bahu gue, yang lagi tiduran. Kebetulan kasur gue lebar. Tono dan yang lain malah berdiri. Gue sama temen-temen gue cerita selama beberapa menit dan gue sedikit tertidur. Tiba-tiba dengan sangat tidak sopannya andi menempelkan pipinya ke pipi indah gue yang lagi tidur ayam. Terus dia mbisikin sesuatu, “tidur ya?”. Gue sebel banget. Pikiran pertama gue pengen langsung nampar dia. Tapi gue terus pura-pura tidur, gue pengen tahu andi bakal nglakuin tindak ketidak sopanan apa lagi. Terus dengan PD nya, andi tidur disampingku menghadap ke punggungku. Tono dengan gaya bijaksana langsung menegur ahmad dengan keras. Gue tetep pura-pura tidur saat itu, sampai hasmi mengajak membeli sesuatu. Kemudian mereka berempat pergi.

Sumpah, gue dongkol banget. Dasar cowok kurangajar. Gue janji pada diri gue saat itu bakal mbalas andi dengan segenap kemampuan yang gue punya. Tapi emang pada kenyataanya andi sebenernya suka sama gue. Tapi sayang banget tingkah lakunya kurang ajar. Jadi gimana gue kagak ilfil.

Kakak sepupu gue dateng. Dia orangnya gagah. Badannya tinggi besar dan sixpack pula. Bikin cewek-cewek nyantol. Dia ke kamarku, nengok gue yang lagi terkulai lemas di ranjang. Dengan tanpa kata yang keluar dari mulutnya. Dia sibakkan selimut yang menutupi kaki gue, lalu dia raba kaki gue. Gue kaget setengah mati. Pikiran gue udah  mengarah pada hal yang mengerikan sekaligus enggak percaya kalo kakak sepupu gue berani pegang-pegang kaki gue. Gue spontan duduk berniat untuk membela diri. Tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, yaitu balsem. Dia berkata “kenapa wil, kok bangun? katanya sakit. Mas mau mijitin kamu, ni mas dah bawa balsem kesukaan kamu. Situ tiduran lagi”.

“Sialan gue udah kaget setengah mati. Gue udah niat teriak minta tolong sama nggebukin kamu mas, eh malah mau dipijitin. Ya udah enggak papa, ayo terusin”. Huhf dari kecurigaan membawa berkah. Gue dipijiitin sampai bonyok gue pulang.

Dengan secepat kilat bonyok ganti kostum terus langsung cabut ke tetangga depan rumah yang katanya ada pesta disitu. Gue sendiri yang dari pagi di rumah enggak tahu kalo depan rumah ada pesta. Gue disuruh ikut. Awalnya gue agak ragu ikut atau enggak mengingat kondisi gue yang lagi dipijitin kakak, eh, lagi sakit maksudnya. Tapi walaupun sakit gue milih pergi ke pesta. Bayangan gue disana udah berjajar makanan enak yang menugguku. Gue terus mengusir kakak dari kamar gue. Pertama gue bersihin muka berminyak gue pake face tonic. Terus gue pilih-pilih kostum, gue mix and match. Akhirnya gue nemu stelan yang cocok, yaitu baju kesayangan nyokap waktu remaja dulu. Walau tu baju udah berpuluh tahun tapi masih bagus dan enggak nyangka sekarang jadi tren lagi. Gue lari ke tetangga depan rumah pake high heels nyokap juga. Suer gue kasian banget. Semua bekasannya nyokap. Akhirnya malem itu bonyok sama gue pergi ke pesta, dan di rumah cuma ada kakak sepupu dan pembantu gue.

Hujan turun. Dari tempat pesta gue liat ada sesuatu mengarah ke rumah gue. Seperinya itu andi, tono, hasmi dan mia. Mereka boncengan naik motor terus berteduh di teras rumah gue. tono menggedor-gedor pintu rumah gue. Dan yang gue penasaran adalah, kenapa enggak ada yang bukain pintu. Pembantu sama kakak gue kemana??

Gue sebenernya pengin nyamperin mereka tapi gue terjebak di pesta ini. Gue enggak enak ninggalin makanan-makanan ini. Mereka terlihat kedinginan, kasian kalau enggak dimasukin perut. Akhirnya temen-temen gue ditolong sama tetangga sebelah rumah gue. Mereka di ajak masuk ke rumah tetangga gue itu. Beres deh. Jodoh gue emang sama mekanan-makanan ini, xixixixixix....

Kamis, 10 November 2011

misteri

Seorang ibu membawa anaknya sambil berlari terkatung-katung melewati gang sempit. Sesekali ibu itu melihat kebelakang dengan tatapan takut dan terburu-buru sambil tetap berlari kencang menggendong anaknya yang masih bayi dengan erat, bahkan mungkin sangat erat. Aku melihat kejadian itu di balik jendela kos ku. Dengan penuh tanda tanya di kepalaku aku melangkah keluar kos untuk melihat sang ibu tetapi sudah tidak terlihat lagi akupun melihat ke arah yang berlawanan untuk mengetahui siapa yang mengejar ibu tersebut. Tetapi aku sangat heran dan bingung karena ternyata tidak ada siapapun yang mengejar ibu tersebut. Kejadian tadi tidak ku ambil pusing walaupun sebenarnya masih penuh pertanyaan di kepalaku. 

Aku pergi kos teman di ujung gang, temanku bernama vona. Dan ternyata di dalam kos vona ada ibu yang tadi berlari sambil menggendong anaknya.  Sebelum ibu tersebut melihatku, akupun bersembunyi di kamar mandi untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada ibu itu. Dari celah-celah pintu kamar mandi aku melihat sang bayi yang sedang digendong melihat ke arahku. Seketika itu juga aku merasakan hal yang aneh terjadi pada diriku. Seolah-olah waktu berhenti. Aku seperti orang pingsan tapi masih bisa melihat keadaan sekitar. Aku terhipnotis oleh tatapan sang bayi. Setelah beberapa lama akupun sadar. Sewaktu aku sadar ibu dan bayinya sudah tidak ada lagi di tempat semula. Akupun keluar dari kamar mandi kemudian menghampiri vona dan bertanya, sebenarnya siapa ibu itu. Tetapi anehnya vona malah bingung dengan pertanyaanku. Seharian ini tidak pernah ada siapapun yang datang ke kos ini kecuali aku. Aku pikir vona hanya mengerjaiku. Aku tanya berulang-ulang dengan wajah serius dan bahkan nada bicara yang sedikit emosi. Tetapi vona tetap pada pendiriannya. Vona pun memasang wajah yang serius dan sedikit jengkel. Setelah melihat ekspresi vona seperti itu aku sekarang percaya padanya. Tiba-tiba timbul rasa takut sekaligus bingung. Banyak sekali pertanyaan dalam otakku. 

Aku menuju ruang tengah kos vona. Di sini pikiranku mulai teralihkan berkat teman-temanku. Aku, vona dan teman-teman lain ngobrol dan bercanda bersama. Tidak jarang pula kami tertawa terbahak-bahak sampai akupun merasa lapar. Aku minta minum kepada vona. Vona menyuruhku untuk ambil sendiri di dapur. Di dapur mataku tertuju pada gelas dan aku berniat untuk mengambil gelas itu. Otakkupun memerintah semua anggota tubuh untuk mengambil gelas yang ada di rak itu. Tiba-tiba sebelum gelas ku ambil, gelas itu melayang kearahku dan berhenti tepat di depan mataku. Sontak aku kaget dan takut. Aku membalik badan untuk berlari ke ruang tengah menuju teman-teman dan gelaspun jatuh dengan suara yang menggemparkan seisi kos. Aku langsung bersimpuh lemas di depan teman-teman. Teman-temanku kaget dan menanyakan keadaanku sebenarnya. Mereka menenangkan dan membawakanku minum. Lalu aku bercerita tentang semua kejadian aneh yang menimpaku sebelum aku berangkat ke kos ini. Semua berpikir aku hanya bercanda, karena sebelumnya memang kita sedang bercanda. Tidak ada satupun yang percaya padaku. Salah satu temanku berkata kepadaku untuk mencoba teknik yang bisa menggerakkan gelas seperti di dapur tadi. Dia menyuruh dengan penuh nada ejekan. Aku merasa sendiri di tengah keramaian ini. Mereka terus menyuruhku untuk menggerakkan benda-benda tanpa memebangnya tetapi aku tidak tahu tekniknya karena aku kaget dan sangat takut. Vona menenangkan dan mengajak dengan lembut agar aku mau mempraktekan bagaimana cara menggerakkan benda tanpa disentuh. Agar teman-teman dapat percaya dan aku terbukti tidak hanya membual. Akupun mencobanya. Aku berkonsentrasi pada buku yang dipegang Vona. Tiba-tiba buku itupun melayang dan menghampiriku. Akhirnya semua anak dalam ruangan itu percaya dan takjub atas kejadian yang baru saja mereka lihat. Bahkan akupun takjub dan merasa tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi. Vona yang bijaksana memberi sedikit nasihat kepadaku. Dia menyuruhku agar menggunakan kekuatan ini dengan bijaksana dan untuk kebaikan. Dia juga berkata bahwa dia senang dengan kondisiku sekarang yang telah mempunyai kekuatan tidak biasa, yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang beruntung. Aku merasa tersanjung dengan pujian itu. Tetapi dalam hatiku masih merasa takut akan apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Aku takut akan hidup dengan kekuatan ini selamanya. Ini adalah hal yang aneh dan mengakibatkan alam tidak seimbang. 

Turun hujan. Satu persatu teman-temanku menuju kamar mereka masing-masing. Aku menuju ruang tamu dan duduk disamping jendela. Memandang keluar jendela dengan pikiran yang masih diliputi banyak pertanyaan dan rasa takut. Kemana sebaiknya aku bertanya. Aku takut semua orang tahu akan kekuatanku. Aku takut mereka menjauhiku atau malah memanfaatkanku untuk kepentingan yang tidak bertanggungjawab. 

Di balik jendela aku melihat wawan dan fadli sedang berteduh di teras depan kos. Kemudian aku mengerjai mereka dengan kekuatanku. Ku buat kerikil melayang dan mengenai punggung wawan sehingga dia mengira fadli yang usil mengerjai dirinya. Kulakukan juga kepada fadli, diapun mengira wawan yang mengerjainya. Aku tertawa terbahak-bahak di balik jendela. Mereka mendengar suara tawaku. Mereka mengetuk kaca jendela dan melihatku tertawa sendirian dan menganggapku gila.

Aku bangun dari tidur ini. Merasa tadi bukan mimpi karena berasa sangat nyata dan jelas runtutan ceritanya. 

mereka menyebalkan


Setelah beberapa lama gue hidup tenang ternyata di tengah hari yang panas ini gue dapet masalah baru. Temen-temen cowok gue yang nyebelin mbikin gue dongkol. Dengan tanpa perasaan mereka gak nganggep gue. Mentang-mentang gue kagak dari rombel ini. Ada juga temen gue yang dengan seenak jidat ngomentarin penampilan gue waktu les di primagama kemaren. Argh, bikin surem.

Di kampus gue sistemnya rombelan, jadi temen-temen, dosen, ruang dan mata kuliahnya selalu beda, sesuai jadwal yang kita ambil. Di kampus gue juga mahasiswi diwajibkan pake rok.

Nah hari ini gue madetin jadwal kuliah gue, soalnya besok jumat rencananya mau pulang kampung, bersiap menyambut hari idul ad’ha. Gue ngikut rombel 7 (PKn) yang di dalemnya ada makhluk yang bernama bang  rio dan bang alan. Dua makhluk itulah yang bikin gue dongkol hari ini di rombel yang asing ini.

Waktu itu gue nyoba nambahin jawaban dari pertanyaan bang rio dalam acara presentasi mata kuliah PKn. Isi presentasinya tentang globalisasi ekonomi. Kebetulan, malemnya gue sempet baca esai tentang globalisasi ekonomi, jadi gue bisa nambahin jawaban yang udah dipaparkan oleh kelompok presentasi. Selama kelompok itu maju gue terus yang nambahin jawaban-jawaban, sehingga diskusi jadi makin ramai dan berisi. Dan  bang rio sebagai sang penanya jadi makin jelas dan ngerti tentang globalisasi ekonomi.

Eh, nggak taunya pas kelompoknya bang rio maju, gue kagak dianggep sama sekali. Dalam presentasinya gue nggak dipersilahkan ngomong. Padahal sebelumnya yang nambahin jawaban dari pertanyaan dia yaitu gue. Sungguh menyebalkan.
.......
Beberapa saat kemudian gue nyolek bang alan. Gue minta file tentang workshop esai kemaren sabtu. Setelah file di copy ke flashdisk gue, dia sempet pesen, “gue nulis sesuatu, gue simpen di fd loe, tolong dibaca”. Gue terheran-heran sekaligus penasaran tapi gue iya in aja, soalnya udah keburu mau ngejar dosen.

Sampai kos gue baca tu tulisan bang alan yang katanya disimpen di fd gue. Ternyata tulisannya sungguh menyebalkan. Dengan seenaknya dia berkata, “maaf, ya, wanita itu lebih anggun kalo pake rok”. What!!!! Mentang-mentang gue pake jean’s gitu, kemaren waktu les di primagama. Apa-apaan....gue dongkol abis.
TAMAT

Rabu, 09 November 2011

Bikin esai

Ternyata cukup melelahkan bikin esai, karena ini adalah esai pertama gue. Dan gue sama sekali enggak tahu apa-apa soal esai. Yang pertama gue cari adalah gimana cara bikin esai. Terus gue cari bahan, gue cocok-cocokin, gue baca berbagai artikel yang berhubungan sama tema yang gue angkat.

Ini esai pertama gue. Semoga disukai banyak orang. Terimakasih